//
you're reading...
kesehatan

Herbal Diabetes (Mungkin) Di Pekarangan Anda

Tampangnya memang manis, bicaranya tak dibuat-buat, dan hmm… penampilannya seksi. Meskipun sebenarnya ia hanyalah sosok yang “gentayangan”. Itulah tokoh sinetron Si Manis Jembatan Ancol yang digemari pemirsa TV. Sebaliknya, orang cenderung takut, benci dan menghindari Si Manis Diabetes Melitus. Pasalnya, ia termasuk penyakit yang bikin orang sengsara.

Si manis ini memang tak buas, asal tidak diberi kesempatan untuk itu. Kalau dibiarkan, dia bisa ulah sehingga mengganggu roda kehidupan orang yang menjadi “inang” nya. Umpamanya, rambut rontok, telinga tuli sebelah, mata kabur, gigi mudah goyah atau lepas, lambung ngambek, ginjal lemah, organ seks lumpuh, urat saraf rusak, sampai penderita gampang terserang TBC dan penyakit jantung koroner. Sebaliknya kalau cepat-cepat di cekal, pengaruh-pengaruh buruk tadi dapat dihindarkan.

Biang keladi penyakit kencing manis terletak pada rombongan hormon insulin yang tidak cukup di dalam tubuh. Bisa karena “produsen” nya, yang disebut kelenjar pankreas, sudah soak. Atau, lantaran jumlah insulinnya sedikit. Padahal, hormone ini bertindak selaku sukarelawan yang memindahkan glukosa dari aliran darah, sebagai tempat penyimpanan glukosa setelah seseorang makan, menuju sel-sel tubuh yang memerlukannya.

Karena insulin tidak cukup, kerjanya jadi tidak efisien, dan glikosa tidak terkirim dengan baik ke dalam sel-sel tadi. Akibatnya, kerja keras mengubah zat makanan menjadi glukosa jadi sia-sia. Keseimbangan kadar gula ( glukosa ) darahpun terganggu. Seharusnya, kadar glukosa darah berkisar 60-120 mg/dl pada saat puasa atau kurang dari 200 mg/dl. Lebih dari itu pertanda si manis sudah datang. Badan jadi lelah dan loyo, sering kencing dan gula darah terbuang percuma lewat air kencing.

Digunakan sejak 1910

Sampai saat ini sudah banyak tanaman yang diketahui mampu melawan kencing manis. Khasiat anti diabetik tersebut telah dibuktikan secara ilmiah ataupun empiris. Bisa disebutkan, memang cukup banyak. Tapi tak semuanya mudah diperoleh. Cuma beberapa yang gampang di cari dan cukup di kenal bagaikan artis beken.

Diantaranya yang tak di sangka-sangka cukup baik bagi penderita kencing manis adalah bawang merah (allium ascalonicum) dan bawang putih (allium sativum) dari penelitian diketahui bawang merah dan bawang putih memiliki sifat hipoglikenik (menurunkan kadar gula darah) dan hipolipidemik (menurunkan kadar lemak darah). Namun, senyawa yang memungkinkannya memiliki sifat itu belum diketahui. Yang pasti, dalam melawan manisnya penyakit ini, bawang putih 10 kali lebih kuat dari pada bawang merah. Karenanya, keduanya dianjurkan digunakan sebagai makanan tambahan bagi penderita diabetes, yakni dimakan sesudah makan. Jumlah yang boleh dimakan tergantung kebutuhan .

Lebih baik lagi, kalau penderita diabetes juga melalap buncis usai makan (pagi, siang, dan malam). Sayuran jenis ini ternyata mempunyai sifat hipoglikemik, hipokolesterolenik (menurunkankadar kolesterol). Dan hipotrigliseridemik (menurunkan kadar trigliserida). Namun, jumlahnya terbatas,yakni 50-200 g (bobot mentah) setiap selesai makan. Pasalnya, sayur ini mengandung kalori dan asam urat cukup tinggi.

Si manis diabetes juga bisa dilawan dengan si pahit buah paria atau pare (Momordica charantia). Pengunaannya untuk melawan diabetes memang masih belum popular di Indonesia. Meskipun begitu, penelitiannya sudah cukup sering dilakukan diberbagai perguruan tinggi. Hasilnya, ada yang memberi harapan ada pula yang tidak. Sementara, di Puerto Rico Kuba, Santo Domingo, paria telah digunakan secara luas sebagai obat tradisional untuk diabetes.

Beberapa orang disana, seperti di kutip Juan A. Pons dan D. Santiago Stevenson dari Presbyterian Hospital, Sam Juan, Puerto Rico, mengakui paria efektif melawan penyakit ini. Dokter yang menggunakanya pun mengungkapkan telah menemukan hasil yang baik setelah mencoba buah jerawatan itu dalam bentuk tunggal atau gabungan dalam melawan kencing manis. Di sebutkan juga, ia membuat diet ketat menjadi tidak terlalu penting. Meski begitu, anda harus tetap hati-hati supatya tidak sampai keracunan hanya karena kelebihan mengkonsumsinya.

Sulit untuk menentukan awal menggunakan flora ini sebagai obat kencing manis. Namun, pernah ada dokter yang praktik di Puerto Rico dan banyak menangani pasien diabetes menyatakan sekitar tahun 1910, orang sudah menanyakan dan membicarakan tentang penggunaan si buah pahit ini.

Di dalam ekstra daun pare yang mengandung alcohol (95 %) di temukan adanya subtansi menyerupai alkaloid. Jumlah alkaloid kasar itu kira-kira 0,038% bobot tepung paria. Dilaporkan pula adanya subtansi yang kemungkinan bersifat hipoglikemik, substansi yang terdiri atas Kristal –kristal, suatu alkaloid, substansi pahit berwarna kuning dan suatu glukosida.

Di Puerko Rico cundeamor, begitu sebutan untuk paria, direbus, lalu airnya diminum 3 kali sehari sesudah makan. Mereka yang tidak menyukai rasa pahit, lebih menyukai tepung daun kering yang di masukan dalam kapsul. Dosisnya 3 kali sehari sesudah makan masing-masing 1-2 kapsul. Dengan cara-cara tersebut, yang dirasakan penderita kencing manis bisa hilang.

Senyawa Mirip Insulin

Bungur (Lagerstromia speciosa) pun diakui mampu melumpuhkan si manis. Di Indonesia, tanaman berbunga ungu ini dikenal sebagai tanaman peneduh. Namun, di Negara tetangga sebelah, Filipina, dia juga beken sebagai tanaman obat.

Efek hipoglikemik bungur bersifat segera, sama dengan yang diakibatkan oleh injeksi insulin. Namun, dalam penelitian Prof. Faustinus Garcia dari Universitas Filipina, tidak ditemukan adanya senyawa tanaman penting yang bersifat hipoglikemik. Dia pun menduga adanya suatu hormon tanaman tersebut yang kerjanya mirip insulin. Sehingga oleh Gracia senyawa hipoglikemik itu disebut dengan “senyawa mirip insulin”. Susunan kimianya memang belum diketahui pasti. Namun, khasiatnya sebagai antidiabetik sudah jelas.

Bagian terbaik untuk obat diabetes adalah daun tua dan buahnya yang sudah masak, karena mengandung “senyawa mirip insulin” terbanyak. Dua puluh gram daun tua atau buah masak yang dikeringkan 1-2 minggu dan direbus dalam 100 cc air (rebusan 20 %) memiliki aktivitas sama dengan 6 sampai 7,7 unit insulin dalam menurunkan gula darah. Sementara, daun “matang”, muda, dan bunga memiliki aktivitas yang berkisar antara 4,4 – 5,4 unit insulin dalam setiap rebusan 20%, kira-kira 70% dari daun tua atau buah tua.

Penelitian Gracia juga menunjukkan pemberian jamu bungur secara oral dengan dosis 1 atau 2 g daun kering per kg BB menurunkan gula darah dari 16-49 mg glukosa per 100 cc darah pada kelinci normal. Penurunan gula darah tersebut relative lebih besar tatkala kadar gula darah awalnya tinggi.

Nah, bila hendak mencoba melawan si manis dengan daun tua bungur, cobalah resep berikut. Daun bungur tua sebanyak 30 g direbus selama 1 jam hingga airnya tinggal 150 ml. Air rebusan tersebut diminum 3 kali 0,5-1 jam sebelum makan.

Duwet (Syzygium cumuni) pun bisa jadi obat penyakit yang menyengsarakan itu. Tanaman yang buahnya menyerupai anggur ini memiliki beberapa varietas. Yang liar disebut duwet kerikil, karena ukurannya sebesar kerikil (dimeternya Cuma 1,5 cm). Namun, yang dibudidayakan ada beberapa varietas, yakni duwet biasa (buahnya biru keungu-unguan), duwet ireng (buahnya hitam), duwet daging (buahnya ungu), dan duwet bawang (buahnya putih).

Daun, kulit kayu, bunga, buahnya, dan bijinya, semuanya bermanfaat. Bahkan di India, ekstrak bijinya diresepkan sebagai obat diabetes. Bila menggunakan biji, yang paling efektif dalam bentuk tepung atau ekstrak cair. Sedangkan kulit kayunya dimanfaatkan dalam bentuk seduhan, ekstrak cair, atau gilingan halus.

Buah matangnya merupakan astringent (zat yang menciutkan) dan dianggap sebagai obat efektif untuk diabetes mellitus. Namun, sayangnya, tanaman yang juga disebut jamblang ini berbuahnya musiman. Bila sedang musim, kita bisa makan buah matang yang segar. Sebaliknya bila tidak musimnya, kia mesti minum jus buahnya, yang sebelumnya mesti dipasteurisasi dan disimpan dalam botol. Tapi jangan makan buahnya terlalu banyak, karena bisa bikin sulut kencing.

Dari penelitian, biji duwet mempunyai kekuatan 5,26-6,14 unit insulin. Biji duwet bawang mampu menyembuhkan gejala-gejala akibat diabetes macam luka yang sulit sembuh. Itu diduga berkat glukosida phytomelin dalam bijinya, yang mampu mengurangi kerapuhan pembuluh-pembuluh darah kapiler, biang keladi luka jadi lama sembuhnya. Biji itu juga mampu menghilangkan gejala lekas cape dan tenaga kurang yang biasa diderita pengidap diabetes. Diduga itu berkat kandungan alfa-phytosterol didalamnya, yakni sejenis sterol yang bersifat anticholesteremik. (mencegah kelebihan kolesterol).

Dilaporkan, dosis menggunakan bijinya 3-4 g/jam atau 3 kali sehari @ 30 g (dalam kapsul). Atau, 7 biji duwet bawang (atau 15 biji duwet biasa) ditumbuk tidak halus lalu direbus dalam 2 gelas air. Air rebusannya, diminum sedikit-sedikit sepanjang hari, bisa 2 atau 3 kali sehari. Cara ini dilakukan sampai gejala cepat lemas tidak ada lagi.

Daun salam (Eugenia polyantha) ternyata juga punya khasiat antidiabetes. Di dalam daun ini terkandung minyak atsiri (berupa eugenol dan sitral), tanin, dan bioflavonoid.

Untuk menjadikannya sebagai obat, daun salam sebanyak 7-100 g direbus dalam 3 gelas air hingga tinggal setengahnya. Airnya disaring dan diminum 3 kali sehari masing-masing setengah gelas. Daun salam bisa direbus ulang sekali lagi esok harinya sebelum menggunakan daun baru.

Lebih Baik Dicegah

Bagaimanapun, penggunaan berbagai tanaman tersebut hanyalah salah satu upaya pengobatan yang sifatnya alternatif. Yang terbaik tentu saja pencegahannya supaya penyakit ini tidak keburu datang. Upaya pencegahan yang cukup penting adalah menghindari kegemukan. Dari penelitian, terbukti lebih dari 80% penderitanya setelah dewasa adalah orang yang mengalami obesitas. Untuk itu perlu dihindari makanan berkdar lemak tinggi, juga yang mengandung pemanis gula murni, misalnya manisan dan sebagainya. Akan lebih baik bila mengkonsumsi makanan berkarbohidrat kompleks. Sekalipun karbohidrat termasuk sumber glukosa, pelepasan gulanya terjadi perlahan-lahan dalm waktu lama. Makanan berserat juga baik untuk mencegah diabetes, sebab serat bisa mengerem masuknya gula ke dalam darah. Dengan begitu kerja insulin tidak terlalu sulit.

Yang tak kalah pentingnya adalah cara makan. Sebaiknya, dibuang jauh-jauh kebiasaan makan sekaligus dalam jumlah banyak. Maksudnya, supaya tubuh tidak kewalahan memenuhi permintaan insulin yang mendadak. Cara terbaik untuk menghindari kejutan-kejutan tingkat glukosa dalam darah adalah dengan makan dalam jumlah merata sepanjang hari. Misalnya, jumlah makan pagi, siang, dan malam dikurangi, tapi diantara jadwal makan itu kita bisa ngemil makanan yang tidak dipantang.

Kalau sudah terlanjur “lengket” dengan Si Manis Diabetes mellitus, kita sudah tak bisa menghindarinya. Disiplin berobat ke dokter, melakukan diet ketat seperti diatas, dan berolahraga dengan porsi tertentu akan memperbaiki kualitas hidup penderita. Bila dirasa perlu, bisa juga dicoba menggunakan tanaman-tanaman obat. (I Gede Agung Yudana)

Majalah Intisari No.399 Oktober 1996

Discussion

No comments yet.

Tulis Komentarmu :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow NLAVIA.COM on WordPress.com

Enter your email address to follow this web and receive notifications of new posts by email.

Join 125 other followers

Blog Stats

  • 245,879 hits
%d bloggers like this: