//
you're reading...
Uncategorized

Cakil

Dibutuhkan segera lowongan kerja menjadi Cakil.. Syarat utama: (1) berbadan kuat dan lincah, (2) bersedia senantiasa ihlas untuk selalu kesakitan, kalah dan dikalahkan. Syarat tambahan: pendidikan minimal SMA tapi diutamakan S 1”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jagat pewayangan geger. Cakil diberitakan telah raib. Dalang-dalang, wayang-wayang, niyaga-niyaga bahkan pesinden belingsatan. Mereka tak berkutik, dibuat tak berdaya dengan hilangnya Cakil. Hilangnya Cakil segera berimbas pada sepinya penonton. Kalau toh ada  satu dua dalang mencoba mementaskan wayang tanpa Cakil, mereka langsung diprotes oleh penonton. Bahkan ada seorang dalang yang babak belur dikeroyok penonton karena nekat tak mementaskan adegan perang kembang.

Rapat dan musyawarah segera digelar oleh Asosiasi Dalang Indonesia. Rapat memutuskan bahwa Cakil harus segera dicari dan  sambil menunggu Cakil ditemukan dibuka lowongan kerja menjadi cakil baru. Lowongan itu disebarkan di berbagai media massa tulis, radio, televisi bahkan internet:

 

 

 

 

 

Pada mulanya banyak orang mendaftarkan diri. Mereka tidak saja dari kalangan pengangguran yang butuh pekerjaan tetapi juga dari berbagai kalangan yang sudah mapan seperti tentara, dokter, guru, dosen, atau mahasiwa. Mereka penasaran dan ingin menjajal diri berpetualang menjadi Cakil. Ketertarikan mereka lebih didorong rasa  heran dan penasaran mengapa ada jenis pekerjaan yang tak lazim: menjadi cakil.

Saking banyaknya diadakan seleksi ketat dan akhirnya diperoleh sepuluh calon cakil. Sebelum  diangkat menjadi Cakil tetap, mereka diwajibkan bekerja magang dulu selama tiga bulan. Belum sampai dua bulan kesepuluh calon itu rontok satu persatu. Ada yang tak kuat karena setiap malam babak belur dihajar oleh Arjuna, ada yang  tak tahan setiap malam harus berjumpalitan sebelum akhirnya benar-benar roboh kehabisan nafas, atau ada yang tak sanggup melawan kebosanan karena tiap malam harus bedah perutnya kena keris sendiri. Dan yang paling banyak mundur karena para pelamar itu tak sanggup makan hati terus-terusan karena harus selalu menjadi jahat dan ujung-ujungnya mesti kalah dengan menyakitkan.

Mundurnya calon-calon cakil itu kembali membuat para dalang blingsatan. Diumumkan kembali iklan lowongan kerja. Kali ini disertai dengan iming-iming gaji sepuluh kali lipat. Bahkan untuk memancing para pelamar juga dengan harapan agar Cakil yang menghilang mau kembali, Asosiasi Dalang memutuskan gaji cakil akan dibayar dengan dollar Amerika. Namun selalu saja para pelamar itu tak sanggup bertahan dan Cakil asli tak juga mau kembali. Jadilah para dalang menganggur, juga niyaga,  dan pesinden.

Tingginya standard gaji Cakil juga menimbulkan persoalan baru. Tokoh-tokoh wayang yang lain, terutama wayang dari golongan satriya merasa tersinggung dan dilecehkan. Mereka mulai kasak kusuk. Bagaimana mungkin Cakil wayang raksasa yang nongos giginya itu bisa demikian tinggi gajinya? Sedangkan golongan mereka, golongan satriya, yang selama ini menjadi golongan paling utama yang tampan, gagah, sekaligus memegang peran utama dalam dunia pewayangan malahan berada di bawah gaji Cakil. Badan Kehormatan Satriya akhirnya memutuskan untuk menggelar musyawarah luar biasa kaum satriya..

“Kakanda Yudistira, ini tidak boleh dibiarkan. Para Dalang itu harus segera kita peringatkan. Kalau dibiarkan lama-lama kredibilitas dan kehormatan kita sebagai satriya akan hancur lebur. Para satriya akan dikalahkan raksasa dan lambat laun dunia pewayangan akan berada dalam genggaman raksasa!” kata Arjuna membuka pembicaraan.

“Benar Mbarep Kakangku. Para Dalang harus mengembalikan wayang pada khitahnya. Mereka harus diingatkan, dunia wayang adalah dunia satriya. Konsep manusia ideal dalam budaya wayang adalah satriya pinandita. Maka jadi tak lucu kalau tiba-tiba saja para Dalang itu seenak perutnya menaikkan gaji Cakil melebihi gaji para satriya. Itu namanya pelecehan. Itu harus diluruskan!” Bima berteriak lantang sambil mengacungkan tinjunya yang sebesar kelapa.

“Coba Kakanda pikir”, si kembar Nakula menyambung, “mestinya para Dalang itu tahu bahwa kita sebagai satriya harus dicitrakan sebagai yang gagah, yang halus, yang indah, tanpa cela untuk diteladani kawula alit. Satriya itu kan warenaning Allah Apa gunanya Dalang-dalang itu menyanjung kita tiap malam dengan melagukan suluk satriya gung binathara bau dhenda anyakrawati, wenang wisesa saknagari, berbudi bawa leksana. Mestinya gaji kita juga harus paling tinggi dan mahal dong! Lha kok Cakil, raksasa bergigi nongos itu malahan tiba-tiba mau dibayar dengan dollar. Itu namanya merusak tatanan dan keharmonisan!”

Adiknya, si Sadewa tak mau kalah menyampaikan unek-uneknya, “Sejak dulu dari berbagai lakon, mulai dari Bale Sigala-gala, Parta Krama,  Wahyu Cakraningrat, Dewa Ruci,  Kresna Duta, sampai Bharata Yudha Jaya Binangun, kita para satriya yang pegang peranan . Si jelek Cakil itu kan selalu muncul tidak lebih dari setengah jam. Itupun langsung modar. Enak saja gajinya bisa setinggi itu. Itu tidak adil. Tidak fair!  Para Dalang itu harus kembali disekolahkan, minimal ditatar atau dikursuskan lagi!

“Saya curiga. Jangan-jangan Dalang-dalang itu bermain mata, berkonspirasi dengan para raksasa melakukan pembunuhan karakter para satriya secara sistematis. Minimal mereka sudah mulai otoriter. Sudah mengkhianati demokrasi. Kita seret saja para Dalang itu ke jalur hukum. Kita somasi. Biar tahu rasa!” teriak Setyaki lantang disambut dengan teriakan setuju para satriya yang lain.

Suasana tegang, gaduh dan kacau balau. Ada satriya yang berteriak sambil memukul-mukul meja, Ada yang berebut mikrofon untuk berlomba interupsi, ada yang naik ke atas meja, bahkan ada yang melempar gelas ke dinding saking kesal dan marahnya. Gatotkaca yang bertugas memimpin sidang tak mampu mengendalikan suasana.

Yudhistira menggaruk-garuk kepalanya. Ia mengerti bagaimana perasaan saudara-saudaranya juga para satriya yang lain. Namun ia juga paham kesulitan yang dialami para dalang akibat ulah Cakil itu. Kakak sepupunya, Kresna yang biasanya memiliki ide yang brilliant, kali ini hanya bisa mengangkat tangan sambil menenggak obat sakit kepala.

Akhirnya ditemani Kresna Yudhistira menemui ketua Asosiasi Dalang. Yudhistira sengaja tidak mengajak adik-adiknya karena khawatir mereka tidak dapat mengendalikan emosi dan mengamuk.

Ki Saminto Lebda Carita, si ketua Asosiasi Dalang, manggut-manggut mendengarkan protes Yudhistira dan Kresna. Keringit dingin menetes di keningnya. Dilepasnya blangkon hitam yang menutupi kepalanya. Dahinya yang lebar semakin berkilau-kilau dialiri keringat yang  makin deras menetes.

“Maafkan saya Saudara Kresna dan Yudhistira.. Saya paham perasaan Saudara-audara.Tapi ini benar-benar keadaan darurat. Keputusan menetapkan gaji tinggi untuk Cakil semata-mata demi kebaikan bersama. Dengan gaji tinggi  kita berharap Cakil mau kembali atau minimal  ada yang mau jadi cakil baru. Dengan demikian kita semua dapat bekerja lagi. Kalau terus-terusan tidak ada Cakil kita semua akan jadi pengangguran. Bagaimana nanti nasib para niyaga dan sinden?  Mohon keihlasan Saudara-saudara satriya untuk sedikit mengorbankan harga diri demi kebaikan bersama!” katanya mencoba menjelaskan sekaligus membujuk Yudisthira.

“Tapi ini merugikan pihak kami sebagai golongan satriya, mestinya para Dalang ndak boleh sepihak begitu dong! Bagaimanapun juga kami kaum satriya memiliki kehormatan lebih tinggi dibanding para raksasa itu . Kalau nanti ganti dari pihak satriya yang boikot gimana? Seandainya para satriya yang tersinggung lantas mogok bermain, apa sampeyan berani  bertanggungjawab? Apa sampeyan berani memainkan atau buat lakon carangan yang isinya raksasa saja?!”  teriak Kresna emosi.

Akhirnya setelah melalui perdebatan panjang dan alot, dicapai kesepakatan bahwa naiknya gaji Cakil hanya sebagai sekedar pancingan dan bersifat sementara. Para Dalang berjanji bilamana Cakil sudah ada atau sudah kembali gajinya akan kembali berada dibawah standard gaji para satriya. Sebagai kompensasi para Dalang menaikan beberapa tunjangan dan penambahan fasilitas  para satriya.

*****

Cakil berjalan tengadah menyusur malam. Suram cahaya bulan dan lintang menelan wajahnya. Insting dan pengalaman kriminalnya di dunia pewayangan membawa kakinya sampai di jalan-jalan sepanjang Dolly. Mulutnya ternganga menyaksikan bagaimana lampu warna warni dan suara hentakan musik mengkudeta sinar bulan dan suara malam. Giginya yang nongos rasa-rasanya semakin memanjang melihat perempuan-perempuan cantik berdandan ketat terpajang seperti ikan hias di  akuarium.

“Ckk, ckk. Gila, dahsyat sekali. Kenapa nggak dulu-dulu minggat dari dunia wayang. Rugi dah aku!” desisnya pada diri sendiri.

Kehadirannya langsung membuat geger lokalisasi itu. Semua orang dengan takjub memandang padanya sambil berbisik-bisik. Nama dan wajahnya yang cukup popular di dunia wayang seperti magnet menghipnotis orang-orang dilokalisasi itu untuk menyebut namanya dengan hormat dan gemetar. Orang-orang mengelu-elukannya, berteriak-teriak dan berebutan untuk berjabat tangan. Tak ketinggalan para wanita di kompleks itu berebutan keluar menyambut dan meminta Cakil mampir di kamarnya Mereka berlomba-lomba berteriak merayu, merebut perhatian dan menawari  tidur bersama dengan gratisan.

Cipir godhong tela, Mas Cakil nggak mampir hatiku kecewa lho!” kata seorang wanita langsing berambut keriting.

Tanjung perak Mas, kapale kobong. Mangga pinarak Mas Cakil, kamarnya kosong kok..!” kata seorang lagi berambut lurus dan berhidung mancung sambil mengedip-ngedipkan mata menggoda.

“Mas Cakil,, alang-alang pinggir kali. Nggak bisa goyang dijamin diulangi lho Mas!” kata Metty  wanita tercantik di komplek itu sambil memegang tangan Cakil.

Cakil merasa tersanjung. Di dunianya dulu jangankan dipegang wanita, digoda pun tak pernah. Cakil langsung teringat pada musuh besarnya, Arjuna. Wanita-wanita hanya untuk Arjuna dan satriya, bukan untuk raksasa. Ia terharu, matanya berkaca-kaca. Seumur-umur baru kali ini ia disambut begitu banyak orang dengan demikian tulus dan antusias. Di tempatnya sendiri, kehadirannya malahan seringkali diremehkan dan dilecehkan, sedang di sini dirasakannya kehadirannya menjadi begitu berarti. Orang-orang semakin banyak merubung dan berebutan menyalaminya. Ada yang menarik-nariknya untuk singgah, ada yang berlomba-lomba memberi cindera mata, bahkan ada yang berebutan minta tanda tangan. Tak ketinggalan anak-anak turut mengerumuninya berebutan minta digendong.

Cakil tinggal di komplek itu. Kedatangannya seakan-akan berkah bagi warga yang tinggal, Berita kedatangannya sampai dimana-mana dan berduyun-duyun orang-orang berdatangan untuk melihat dan sekaligus mengelu-elukannya. Komplek itu otomatis makin ramai pengunjung. Cakil menjadi idola baru, hidupnya serba kecukupan. Cindera mata dari hari ke hari makin menumpuk mulai dari sekedar handuk, sapu tangan, pipa rokok, baju hingga barang elektronik. Bahkan ada seseorang yang konon pejabat Pemda memberinya hadiah sebuah mobil sekedar untuk jalan-jalan.

Kehadirannya membuat iri Maus, preman yang selama ini menguasai kawasan Dolly dan sekitarnya. Maus mengumpulkan anak buahnya. Mereka mendatangi Cakil, memaksanya untuk pergi. Penjelasan Cakil bahwa ia tak berambisi merebut pengaruh dan kekuasaan tak digubrisnya. Cakil  ditantang berkelahi.

Cakil malas menanggapinya. Ia sudah  bosan berkelahi. Tapi Maus memaksa dan mengeroyoknya beramai-ramai. Naluri jagoannya dengan reflek muncul. Sebagai salah satu mantan pemimpin prajurit raksasa, Cakil sejak kecil sangat menguasai berbagai ilmu berkelahi. Mulai dari karate, silat, ju jit su, yudo, gulat, tinju bahkan ilmu kebal dan gendam pun dimiliki. Dalam hitungan detik saja Maus dan kawan-kawannya dapat dirobohkan. Mereka diampuni bahkan tetap dipercaya memegang keamanan seluruh komplek.

Makin hari nama Cakil makin harum. Pengaruh dan wibawanya tersebar ke mana-mana. Cakil dianggap sebagai sahabat, sebagai bapak, sebagai pelindung, pemimpin, dituakan dan dianggap sebagai sesepuh. Disegani tidak saja di kalangan preman tapi juga di kalangan rakyat biasa, tentara, polisi dan aparat pemerintahan kota. Cakil telah menjelma jadi Robin Hood sekaligus selibretis..Pergaulannya  semakin lama makin bertambah luas. Tidak saja dari kalangan preman, pelacur dan tukang berkelahi, tapi juga di kalangan golongan masyarakat mapan seperti pedagang, dosen, guru, mahasiswa, pelajar, dokter bahkan pejabat.

Pergaulannya dengan para mahasiswa membuat Cakil fasih menggalang dan mengelar demonstrasi-demonstrasi. Dari para pedagang dan pengusaha Cakil belajar bagaimana menjalankan bisnis. Bisnis dan perusahaanya berkembang dengan pesat dan menggurita. Cakil tak segan-segan pula mengikuti perkuliahan di berbagai jurusan mulai dari filsafat, sastra, ekonomi, teknik hingga arsitektur. Juga kursus bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Jepang, bahasa Arab, bahkan kursus memasak.

Keberhasilan demi  keberhasilan yang diperolehnya tak membuat Cakil puas. Ia bertekat mengembangkan perusahaanya ke level internasional. Cakil membidik sebuah tender raksasa bertaraf internasional di ibu kota. Dikumpulkannya segenap penasihat ekonomi dan konsultannya untuk menyusun strategi.

“Bos, kita harus melakukan pendekatan informal bila ingin tender mega proyek ini dapat kita garap. Sekarang ini jamannya jaman loby. Kita harus kreatif dan inovatif.  Saya punya kenalan yang dapat menghubungkan Bos dengan pejabat pemerintahan pusat setingkat menteri yang mengurusi masalah ini. Bos juga harus menemui Bapak Y, seorang anggota senior Dewan Perwakilan yang  turut menentukan. Sebaiknya Bos menemui mereka dan negoisasi untuk mendapatkan rekomendasi,” saran Drs. Sus salah seorang penasihatnya yang terpercaya.

Pada hari yang ditentukan diantar Drs. Sus dan kenalannya, Cakil menemui pejabat tinggi itu. Cakil sudah menyiapkan beberapa lembar cek dan sebuah kunci mobil keluaran terbaru buatan luar negeri. Mereka diminta untuk menunggu karena sang pejabat masih metting dengan duta besar negera sahabat. Waktu seperti merangkak. Hampir dua jam Cakil menunggu. Cakil sangat tersiksa. Sebagai raksasa Cakil sama sekali tidak terlatih untuk bersikap sabar. Akhirnya setelah hampir bosan menunggu, sekretaris meminta Cakil memasuki ruangan sang Pejabat. Dengan berdebar-debar Cakil melangkah ke dalam ruangan. Sang Pejabat duduk di atas kursi dengan tubuh membelakangi Cakil sambil asyik menerima telepon. Mendengar salam dari Cakil, sang pejabat meletakkan telepon dan memutar kepalanya memandang wajah Cakil.

Cakil langsung terpekik. Kepala dan jantungnya serasa meledak ketika melihat sang pejabat tersenyum menyeringai padanya. Seringai dari wajah yang sangat dikenalnya, wajah Arjuna! Cakil menjerit melolong lolong terbang berlari keluar ruangan meninggalkan Sus dan kenalannya yang melongo.

Cakil langsung tancap gas. Mobilnya meraung-raung membelah keramaian kota langsung menuju Gedung Dewan Perwakilan. Harapannya tinggal satu, Pak Y anggota senior di Dewan Perwakilan.

Sampai di gedung Dewan Perwakilan, Cakil langsung menuju ruangan Pak Y. Seorang petugas keamanan berusaha menahannya dan mengatakan bahwa Pak Y sedang rapat dengan anggota dewan yang lain. Cakil tak peduli. Ia nekat masuk ruangan. Petugas keamanan itu berusaha meringkusnya. Dengan satu gerakan yudo., Cakil membantingnya.

Pintu ruangan dibukanya lebar. Tampak puluhan anggota  Dewan Perwakilan sedang rapat. Cakil menerobos masuk. Pak Y mengangkat muka dan melambaikan tangan memanggilnya.

Cakil langsung memekik dan jatuh  tersungkur. Dilihatnya wajah Kresna tersenyum penuh kemenangan.  Cakil juga dengan jelas melihat wajah Yudistira, Bima, Nakula, Sadewa, Setyaki, Abimanyu, dan satriya-satriya lain. Semuanya mengenakan pin anggota Dewan Perwakilan di bajunya. Mereka tertawa dan bersorak penuh kemenangan.

Cakil susah payah bangkit, sempoyongan berlari sambil menjerit-jerit. Mobilnya tak lagi diingatnya. Berlari serabutan melintasi jalan raya. Diterjangnya kendaraan-kendaraan yang lalu lalang. Kendaraan-kendaraan menjerit-jerit remnya disusul dengan makian pengemudinya. Cakil tak peduli, terus berlari secepat-cepatnya. Bahkan kadang-kadang ia meloncati begitu saja mobil-mobil yang menghadangnya. Ia tak lagi memperdulikan arah dan tujuan. Yang ada dalam pikirannya hanya satu. Segera meninggalkan tempat terkutuk itu dan menghilang selamanya dari para satriya

Sampai di dekat perempatan jalan di bawah tiang lampu traffic light. Cakil beristirahat. Nafasnya ngos-ngosan hampir putus. Tiba-tiba sebuah mobil BMW warna hitam keluaran terbaru berhenti di sisinya. Jendela kaca terbuka. Cakil melihat sebuah wajah dengan pakain necis berdasi berkaca mata menyapanya, “ Mau ikut numpang Bung?”

Cakil melongo. Sejurus kemudian melolong dan memekik panjang sekali. Panjang dan mengiris-iris telinga.  Ia tak pangling. Pengemudi  mobil BMW mewah  necis berdasi itu: Semar!

Cakil menggelosot pingsan …

 

*****

 

Ngawi, 2008/2009

by Tjahjono Widijanto

Discussion

4 thoughts on “Cakil

    • Nih

      Cakil
      Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

      Buta Cakil merupakan seorang raksasa dengan rahang bawah yang lebih panjang daripada rahang atas. Tokoh ini merupakan inovasi Jawa dan tidak dapat ditemui di India.

      Dalam sebuah pertunjukan wayang, Cakil selalu berhadapan dengan Arjuna ataupun tokoh satria yang baru turun gunung dalam adegan Perang Kembang. Tokoh ini hanya merupakan tokoh humoristis saja yang tidak serius namun sebenarnya Cakil adalah perlambang tokoh yang pantang menyerah dan selalu berjuang hingga titik darah penghabisan karena dalam perang kembang tersebut Cakil selalu tewas karena kerisnya sendiri.

      Like

      Posted by nlavia86 | September 19, 2011, 2:28 AM
  1. bambang cakilan

    Like

    Posted by hadiyanta | September 21, 2011, 10:30 PM

Tulis Komentarmu :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow NLAVIA.COM on WordPress.com

Enter your email address to follow this web and receive notifications of new posts by email.

Join 125 other followers

Blog Stats

  • 245,847 hits
%d bloggers like this: